Sekolah Filial


Mutiara di Balik Rimbunnya Sangatta: Kisah SDN 013 Filial

Di mana aspal kota berakhir dan jalan tanah merah mulai membentang, di situlah sebuah cerita tentang keteguhan hati bermula. Jauh dari hiruk-pikuk pusat kota Sangatta, tersembunyi di antara sunyinya alam dan rimbunnya pepohonan, berdiri sebuah bangunan sederhana yang memikul tanggung jawab besar: Sekolah Filial SDN 013 Sangatta Selatan.

Bagi sebagian orang, sekolah identik dengan gerbang megah dan gedung bertingkat. Namun, bagi anak-anak di sini, sekolah adalah sebuah "rumah panggung" kayu dengan dinding papan yang menjadi saksi bisu setiap ejaan yang mereka lafalkan.

Simfoni di Tengah Keterbatasan

Pagi di sekolah filial ini tidak disambut dengan suara klakson kendaraan yang bising, melainkan kicauan burung dan gesekan dedaunan hutan Kalimantan. Bangunan sekolah ini mungkin jauh dari kata mewah. Plafonnya sederhana, dan dinding kayunya mungkin memiliki celah di mana angin dan cahaya matahari mengintip masuk.

Namun, jangan pernah meragukan apa yang ada di dalamnya. Di balik kesederhanaan fasilitas itu, tersimpan energi yang meletup-letup. Ruang-ruang kelas yang terbatas itu tidak pernah sepi dari mimpi. Di sini, kapur tulis masih menjadi senjata utama, dan buku-buku lusuh diperlakukan selayaknya harta karun.

Pahlawan Tanpa Tanda Jasa dan Pejuang Kecil

Narasi tentang SDN 013 Filial tidak akan lengkap tanpa menceritakan para aktor utamanya.

Bayangkan para guru yang setiap hari harus menempuh perjalanan yang tak mudah. Ketika hujan turun, tanah merah berubah menjadi bubur lumpur yang siap menjebak roda kendaraan. Namun, lelah mereka terbayar lunas begitu melihat senyum anak-anak yang sudah menunggu di depan kelas. Guru di sini bukan sekadar pengajar; mereka adalah pembuka jendela dunia bagi anak-anak yang aksesnya terbatas.

Dan lihatlah anak-anak itu. Sebagian dari mereka mungkin harus berjalan kaki jauh, menembus jalan setapak perkebunan atau pinggiran hutan. Sepatu mereka mungkin kotor oleh tanah, namun mata mereka bersih, berbinar memancarkan rasa ingin tahu.

"Di sini, menyanyikan 'Indonesia Raya' terasa lebih sakral. Suara lantang anak-anak itu membelah kesunyian hutan, menegaskan bahwa mereka juga bagian dari masa depan bangsa ini, meski berada di sudut yang terpencil."

Posting Komentar

0 Komentar